Tak pernah terbayangkan sebelumnya, saya jadi guru. Sejak SD ketika semua siswa saat itu diperintahkan mengarang cita-cita, tak terpikir untuk menjadi guru. Yang terpikir saat itu adalah: dokter, insinyur, pilot, wartawan (yang suka baca berita di TV), polisi, tentara, dan yang paling umum, presiden. Kenapa tidak satupun bercita-cita jadi guru? Entahlah, namun saya sendiri merasa sepertinya profesi guru sangat tidak menyenangkan. Suaranya tidak didengar. Guru harus teriak-teriak di tengah-tengah siswa yang asik dengan obrolannya sendiri dengan temannya.Yang pasti rasanya, tidak ada enaknya jadi guru.
Setelah lulus dari SMK jurusan Elektronika, saya melanjutkan pekerjaan di bidang teknik yang saya pelajari. Bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan memang terasa menyenangkan. Namun saya berhenti dari pekerjaan itu 8 bulan kemudian, dan menerima tawaran teman yang saat itu dia jadi kepala sekolah di kaki gunung. Sekolahnya baru berdiri satu tahun, dan saya diminta membangun sistem laboratorium komputer mereka pada tahun kedua sekolah ini berjalan. Sepertinya semua berjalan mengalir beritu saja, sampai akhirnya saya ditawari mengajar pelajaran TIK dan saya merasakan sensasi tersendiri menjadi seorang guru, SUSAH. Rasanya mending berhadapan dengan ratusan komputer rusak untuk diperbaiki, daripada berhadapan dengan 20 siswa yang berbeda karakter dan kebutuhan. Tidak mudah mengajarkan apa yang sudah saya fahami tentang pelajaran yang saya ajarkan. Mungkin karena saya tidak pernah memelajari ilmu pendidikan, sehingga tidak pernah terbayang bagaimana saya mengajarkan semua yang saya pahami.
Ternyata ada yang menarik dengan profesi guru, dalam pandangan saya. Bukan karena gajinya yang besar, karena gaji guru mana yang gede? Sebesar-besarnya gaji guru, biasaya standar UMR atau paling besar juga 2 sampai 3 kali lebih besar dari UMR. Yang menarik bagi saya, yaitu guru adalah marketing yang akan mendapatkan pasif income (baca: pasif pahala). Jika kita mengajarkan yang baik, maka kita akan mendapat pasif income kebaikan selama ilmu yang kita ajarkan terus diamalkan dan diajarkan lagi oleh murid-murid. Maka saya berkhayal, mungkin di akhirat nanti saya kaget dengan catatan kebaikan saya yang begitu bertumpuk banyak. Padahal saya tidak pernah merasa melakukannya. Dan ternyata, ketika saya bertanya kepada Sang Maha Pencipta, Ia berfirman: "itulah kebaikan yang kau dapatkan dari ilmu yang kau ajarkan kepada murid-muridmu." Menjadi guru, ternyata membuka peluang menuju surga.
Hayalan saya bukan tanpa dasar. Ada sebuah hadits yang membuat saya begitu menjunjung tinggi profesi seorang guru. Rasulullah saw bersabda:
من سن في الإسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا
Barangsiapa membiasakan (menyunahkan) sunnah yang baik dalam Islam, maka ia
mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengkutinya tanpa mengurangi
pahala orang yang mengikutinya sedikitpun. ...... (HR Muslim)
Tentu senang sekali kalau sampai hayalan saya tadi, ternyata terwujud dan terbukti ketika nanti di akhirat. Dan saya yakin, perkataan Nabi pasti benar.
Berarti enak dong jadi guru? Eit, lihat dulu yang diajarkannya. Kalo yang diajarkan adalah kebaikan, maka sesuai dengan hadits tadi bahwa kita akan mendapat kebaikan dari orang-orang yang mengikuti kita. Sebaliknya jika yang diajarkannya adalah keburukan, maka keburukan pula yang akan guru dapatkan sebagai pasif income. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi seorang guru selain mengajarkan kebaikan. Jangan sampai kita kaget dengan catatan dosa yang bertumpuk, sementara kita tidak merasa melakukannya. Ketika kita komplain, maka dijawab oleh Sang Maha, bahwa itu adalah dosa yang guru dapatkan dari dosa murid-muirdnya yang diajari keburukan. Oh, no.
Blog ini, saya gunakan untuk sharing berbagai ilmu dan pengalaman terkait dunia pendidikan. semoga bermanfaat dan menginspirasi. Juga semoga menjadi media kebaikan bagi semua yang membacanya, sehingga kebaikan yang dilakukan oleh pembaca menjadi tambahan tiket surga bagi saya. Amin.